Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016
" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU, JANGAN LUPA KLIK LIKED ATAU DISUKAI, GAMBAR FACEBOOK DITENGAH HALAMAN MELAYANG, SEBENTAR LAGI AKAN MUNCUL "

Sabtu, 03 Desember 2016

Tuntunan Islami : Seperti Inilah Akhlak Nabi Kepada Non Muslim




JIKA ada ajaran yang manivestasi seluruh konsepnya telah diteladankan, itulah Islam. Dengan kata lain, menjadi Muslim tidak perlu repot-repot kesana-kemari, cukup lihat sosok Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam dari berbagai sisi kehidupannya, maka sungguh Islam telah ditegakkan.
Image result for Tuntunan Islami : Seperti Inilah Akhlak Nabi Kepada Non MuslimPernah suatu waktu seseorang bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu Anha perihal bagaimana Nabi dalam kesehariannya, Aisyah pun menjawab: 
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an”
Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat.
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS: Al-Qalam [73]: 4).
Pada ayat lainnya, Allah juga menjelaskan perihal akhlak Nabi.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Dengan demikian teranglah bagi umat Islam bahwa untuk menjadi Muslim yang benar, akhlak Nabi mesti menjadi panduan dalam berperilaku sehari-hari. Lantas bagaimanakah akhlak Nabi terhadap non Muslim?
Pertama, menolong non Muslim yang lemah
Adalah termasuk kisah yang amat masyhur, bahwa Nabi adalah yang paling perhatian terhadap kondisi pengemis tua dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah.
Setiap hari, Nabi datang menyuapi pengemis tersebut, yang selain faktor usia, ia juga sudah tidak bisa melihat (tunanetra). Dan, setiap Nabi datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu menyebut-nyebut Muhammad sebagai orang yang jahat, mesti dijauhi dan sebagainya.
Hingga pada akhirnya, Yahudi tua itu terkejut, ketika tangan yang biasa menyuapinya selama ini berbeda pada suatu hari. Ya, tangan itu adalah tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang senantiasa ingin mengikuti Nabi dalam segala hal.
Saat itulah, Yahudi mendapatkan berita bahwa tangan yang selama ini menyuapinya telah tiada, dan tangan itu adalah tangan Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam.
Kedua, tidak membalas kejahilannya
Ketika masih di Makkah, setiap hendak ke Ka’bah, dalam perjalannanya, Nabi selalu mendapat perlakuan jahil (buruk) dari seorang Yahudi yang itu dilakukan hampir setiap kali Nabi melintas.
Terhadap perlakuan buruk itu, Nabi tidak membalas, beliau tetap tidak menghiraukannya. Hingga tiba suatu hari, dimana mestinya beliau mendapat perlakuan buruk (diludahi seorang Yahudi) ternyata saat itu tidak. Bukannya senang, Nabi pun mencari tahu kemana gerangan si Yahudi.
Setelah mendapat kabar bahwa Yahudi sakit, Nabi pun menjenguknya. Dan, luar biasa kaget si Yahudi, bahwa Nabi Muhammad, orang yang selama ini diperlakukan buruk, justru menjadi yang pertama menjenguknya kala ia sakit.
Ketiga, memberikan perlindungan dan pemahaman Islam jika meminta
Allah Ta’ala memerintahkan Nabi untuk memberikan perlindungan kepada orang kafir yang meminta perlindungan kepada beliau.
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS: At-Taubah [9]: 6).
Memaparkan ayat tersebut Ibn Katsir menulis bahwa ayat tersebut menjadi acuan Nabi dalam memperlakukan orang kafir atau musyrik yang ingin mendapatkan perlindungan, entah statusnya sebagai orang yang ingin bertanya ataupun sebagai utusan dari orang-orang kafir.
Hal itulah yang dilakukan serombongan kafir Quraisy yang terdiri dari ‘Urwah bin Mas’ud, Mukriz bin Hafsh, Suhail bin ‘Amr dan lain-lain. Satu persatu dari orang-orang musyrik itu menghadap Nabi memaparkan permasalahannya, sehingga mereka mengetahui bagaimana kaum Muslimin mengagungkan Nabi.
“Sebuah pemandangan mengagumkan yang tidak mereka jumpai pada diri raja-raja di masa itu. Mereka pulang kepada kaumnya dengan membawa berita tersebut. Peristiwa ini dan peristiwa semisalnya merupakan faktor terbesar masuknya sebagian besar mereka ke dalam agama Islam,” tulis Ibn Katsir.
Dan, seperti terdorongnya orang kafir masuk Islam tersebut, begitulah yang terjadi pada kategori pertama dan kedua dalam bahasan akhlak Nabi terhadap orang kafir. Akhlak Nabi adalah dakwah sejati, yang penerapannya bisa menggugah hati mendapat hidayah Ilahi.
Nabi bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari Kiamat melebihi akhlak baik. Sesungguhnya, Allah membenci perkataan keji lagi jorok.” (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian, tenang dan santunlah kepada siapapun, termasuk kepada orang kafir. Kecuali orang kafir yang sudah mengancam jiwa dan bermaksud buruk terhadap agama kita, maka bersikap tegas terhadapnya adalah respon yang paling tepat untuk diberikan. Wallahu a’lam.*
Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :


Pesan Luqman Pada Anaknya yang Perlu Ditiru Oleh Setiap Orangtua Muslim




Pesan Luqman Pada Anaknya yang Perlu Ditiru Oleh Setiap Orangtua MuslimApa yang sering kita pesankan pada anak-anak? Sekadar belajar yang baik, patuh pada orangtua, atau hal lainnya? Yuk intip beberapa Pesan Luqman pada Anaknya yang Perlu Ditiru Setiap Orangtua Muslim berikut ini:
1. INGATKAN ANAK UNTUK TIDAK MEMPERSEKUTUKAN ALLAH!
“Duh, anak saya masih kecil, nggak mungkin ngerti kalau dipesankan seperti ini!”
KabarMuslimah.net – sadarilah bahwa ini merupakan pesan terpenting yang bahkan diemban oleh setiap Nabi dan Rasul sebagai misi dakwahnya, kita bisa menyampaikan pada anak-anak sedini mungkin melalui cerita, kisah para Nabi, maupun dalam bentuk media lainnya yang kira-kira bisa dipahami anak untuk tidak mempersekutukan Allah.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman :13)
Banyak anak teracuni oleh film Doraemon, dimana tokoh Nobita senantiasa meminta pertolongan ke Doraemon. Atau film-film yang bertemakan magic lainnya, misalnya cinderella yang punya peri ajaib.
Nah, orangtua bisa menjelaskan bahwa sebagai muslim kita hanya boleh meminta pertolongan pada Allah, kalaupun ada orang yang menolong kita, mereka adalah orang yang dikirim oleh Allah sebagai jawaban atas doa kita.
2. INGATKAN ANAK UNTUK BERBAKTI DAN BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1]. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman : 14).
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman : 15)
Sudah menjadi kewajiban orangtua menjadikan anak-anaknya mengerti keharusan berbuat baik dan berbakti pada ibu dan bapaknya. Kita bisa menjelaskan mengenai apa yang telah ibu dan bapak lakukan, mulai dari proses kehamilan, melahirkan, sampai membesarkan mereka dan memberi nafkah.
Jangan sampai putra-putri kita tidak mengerti hal sederhana ini karena kita berharap mereka memahami hal ini tanpa perlu diberitahukan.
3. BERI PENJELASAN BAHWA SETIAP PERBUATAN AKAN MENDAPAT BALASAN
(Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[2] lagi Maha mengetahui. (QS. Luqman : 16)
Anak-anak juga perlu diberitahukan mengenai tanggungjawab atas segala yang mereka perbuat. Bahwa kebaikan dan keburukan akan kembali pada diri masing-masing. Sehingga mereka senantiasa akan enggan berbuat jahat dan memperbanyak perbuatan baik.
4. MENDIRIKAN SHALAT, AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR DAN BERLAKU SABAR
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman : 17)
5. INGATKAN ANAK UNTUK MENJAUHI SIFAT SOMBONG
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman : 18)
Jangan sampai anak berbangga pada dirinya dan kepintarannya sendiri, ajarkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah, dan bahwasanya semua yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah yang tak pantas untuk disombongkan.
“Nak, kalau ada orang yang memujimu, ucapkan Alhamdulillah, itu artinya segala pujian bagi Allah, soalnya yang membuatmu hebat adalah Allah, bukan karena dirimu sendiri. Mengerti ya?!”
Demikianlah, semoga artikel ini bermanfaat.

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :


Kasih Ibu Sepanjang Masa, Bagaimana Dengan Kasih Anak?


Menjadi Ibu adalah karunia terbesar bagi seorang wanita di dalam hidupnya. Seluruh kasih sayang akan diberikan seluruhnya kepada sang anak.
Kasih Ibu Sepanjang MasaIni adalah sebuah gambaran yang akan menyadarkan kita, betapa besarnya pengorbanan serta kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya.
Sebelum kita terlahir, ibu selalu memastikan kita dalam keadaan sehat. Mengandung selama 9 bulan. Begitu banyak cobaan yang ibu alami. Sampai untuk tidur pun susah, dikarenakan perut yang semakin hari semakin membesar.
Sesaat kita baru lahir. Ibu selalu menjaga dan merawat kita sepanjang masa. Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran sang ibu dalam segala hal, termasuk dalam memandikan. Saat sesibuk apapun, ibu akan selalu ada waktu bagi anaknya.
Saat sang anak lapar, ibu dengan kasih sayang nya akan menyusui atau menyuapi sang anak dengan senyuman dan kesabaran. Bahkan ada beberapa diantara ibu yang berusaha atau bekerja keras tanpa henti untuk memberikan yang terbaik untuk sang anak.
Dan tahukah kita, apa yang dilakukan ibu seusai shalat? Ya, dia tanpa hentinya selalu mendoakan kita, dengan segala ketulusan hati dia. Lalu apa yang telah kita perbuat terhadapnya? Membahagiakannya kah? Atau mendoakannya kah?
Tidak sampai disitu saja. Ketika sang anak sudah berpisah dengan ibu, dikarenakan sudah memiliki keluarga baru. Ibu tanpa hentinya selalu memikirkan dan mendoakan sang anak. Dan berharap, pada saat itu ada sang anak yang selalu menemaninya. Tapi ibu memakluminya, karena itu memang sudah jalan yang di ikhlaskan ketika anaknya memutuskan untuk memiliki keluarga baru (menikah).
Sesekali, tengoklah ibu kita. Agar rasa kangen ibu dapat terbayarkan dengan kehadiran kita dihadapannya. Kehadiran kita dihadapannya itu sudah lebih dari harga sebuah rumah dan mobil mewah. Karena yang diharapkan ibu kepada sang anak adalah bukan hal-hal yang mewah yang mungkin saat ini kita miliki. Tapi kasih sayang sang anak lah yang diharapkan oleh ibu.
Jangan sampai penyesalan besar yang akan kita dapatkan. Dikarenakan rasa kangen kita muncul ketika ibu sudah tiada.
Bahkan Rasulullah pernah menyampaikan sabda tentang keutamaan seorang ibu dari seorang Bahz bin Hakim. Meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasul. Lelaki itu bertanya, “Siapakah yang harus saya taati?” Kemudian Rasul menjawab, “Ibumu”. Dan bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab “Ibumu”. Dan bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ayahmu. Kemudian kerabat terdekat yang disusul kerabat lainnya”.
Ini menunjukan, betapa mulianya seorang Ibu di mata Rasul. Sehingga beliau menyebutkan kata ibu sampai 3 kali, baru di susul ayah.
Kasihilah ibu sebagaimana ibu mengasihi kita.
Mengasihi dan menyayangi ibu tidak kenal waktu. Jangan hanya ketika ada Hari Ibu, kita baru mau ucapkan selamat hari ibu lantas baru mau mengasihi dan menyayangi ibu.
Ingat, kasih ibu sepanjang masa. Tak kenal waktu, ruang, dan tempat. Balaslah besarnya kasih mereka dengan kasih kita.
Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :



Akal-Akalan dalam Riba











Image result for Akal-Akalan Melegalkan Riba



Jan 20, 2012Muhammad Abduh Tuasikal, MSc


Selalu saja ada akal-akalan untuk bisa melegalkan yang haram. Kadang dengan pengaburan istilah. Kadang pula dengan melakukan trik-trik yang tetap haram. Trik-trik untuk bisa melegalkan yang haram salah satunya dapat kita lihat dalam transaksi riba.

Memahami Riba

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). Di antara definisi riba yang bisa mewakili definisi yang ada telah dikemukakan oleh Muhammad Asy Syarbiniy. Riba adalah,

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا

“Suatu akad/ transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya” (Mughnil Muhtaj, 6: 309). Sudah diketahui pula bahwa riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan ijma’ (kata sepakat) para ulama (Lihat Al Mughni, 7: 492).

Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

Begitu pula dalam berbagai hadits ditunjukkan bagaimanakah dosa memakan riba yang dianggap sebagai dosa besar. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ

“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (dalam melakukan yang haram)” (HR. Muslim no. 1598).

Jual Beli ‘Inah, Trik Transaksi Riba

Di antara trik transaksi riba yang sudah diwanti-wanti sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang disebut dengan jual beli ‘inah.

Ada beberapa definisi mengenai jual beli ‘inah yang disampaikan oleh para ulama. Definisi yang paling masyhur adalah seseorang menjual barang secara tidak tunai kepada seorang pembeli, kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk mengakal-akali supaya mendapat keuntungan dalam transaksi utang piutang.

Semisal, pemilik tanah ingin dipinjami uang oleh si miskin. Karena saat itu ia belum punya uang tunai, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saya jual tanah ini kepadamu secara kredit sebesar 200 juta dengan pelunasan sampai dua tahun ke depan”. Sebulan setelah itu, si empunya tanah katakan pada si miskin, “Saat ini saya membeli tanah itu lagi dengan harga 170 juta secara tunai.”

Artinya di sini, si pemilik tanah sebenarnya melakukan akal-akalan. Ia ingin meminjamkan uang 170 juta dengan pengembalian lebih menjadi 200 juta. Tanah hanya sebagai perantara. Namun keuntungan dari utang di atas, itulah yang ingin dicari. Inilah yang disebut transaksi ‘inah. Ini termasuk di antara trik riba. Karena “setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, itu adalah riba.”

Mengenai hukum jual beli ‘inah, para fuqoha berbeda pendapat dikarenakan penggambaran jual beli tersebut yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad tidak membolehkan jual beli tersebut. Sedangkan –sebagaimana dinukil dari Imam Asy Syafi’i rahimahullah-, beliau membolehkannya karena beliau hanya melihat dari akad secara lahiriyah, sehingga menganggap sudah terpenuhinya rukun dan tidak memperhatikan adanya niat di balik itu. Namun yang tepat, jual beli ‘inah dengan gambaran yang kami sebutkan di atas adalah jual beli yang diharamkan. Di antara alasannya:

Pertama: Untuk menutup rapat jalan menuju transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, sama saja membolehkan kita menukarkan uang 10 juta dengan 5 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba.

Kedua: Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga;lh kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3462. Lihat ‘Aunul Ma’bud, 9: 242)

Trik Riba dalam Jual Beli Kredit

Jual beli secara kredit asalnya boleh selama tidak melakukan hal yang terlarang. Namun perlu diperhatikan bahwa kebolehan jual beli kredit harus melihat beberapa kriteria. Jika tidak diperhatikan, seseorang bisa terjatuh dalam jurang riba.

Kriteria pertama, barang yang dikreditkan sudah menjadi milik penjual (bank). Kita contohkan kredit mobil. Dalam kondisi semacam ini, si pembeli boleh membeli mobil tadi secara kredit dengan harga yang sudah ditentukan tanpa adanya denda jika mengalami keterlambatan. Antara pembeli dan penjual bersepakat kapan melakukan pembayaran, apakah setiap bulan atau semacam itu. Dalam hal ini ada angsuran di muka dan sisanya dibayarkan di belakang.

Kriteria kedua, barang tersebut bukan menjadi milik si penjual (bank), namun menjadi milik pihak ketiga. Si pembeli meminta bank untuk membelikan barang tersebut. Lalu si pembeli melakukan kesepakatan dengan pihak bank bahwa ia akan membeli barang tersebut dari bank. Namun dengan syarat, kepemilikan barang sudah berada pada bank, bukan lagi pada pihak ketiga. Sehingga yang menjamin kerusakan dan lainnya adalah bank, bukan lagi pihak ketiga. Pada saat ini, si pembeli boleh melakukan membeli barang tersebut dari bank dengan kesepakatan harga. Namun sekali lagi, jual beli bentuk ini harus memenuhi dua syarat: (1) harganya jelas di antara kedua pihak, walau ada tambahan dari harga beli bank dari pihak ketiga, (2) tidak ada denda jika ada keterlambatan angsuran. (Faedah dari islamweb.net)

Jika salah satu dari dua syarat di atas tidak bisa dipenuhi, maka akan terjerumus pada pelanggaran. Pertama, boleh jadi membeli sesuatu yang belum diserahterimakan secara sempurna, artinya belum menjadi milik bank, namun sudah dijual pada pembeli. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

“Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari no. 2136 dan Muslim no. 1525)

Ibnu ‘Umar berkata,

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

“Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim no. 1527)

Atau bisa jadi terjerumus dalam riba karena bentuknya sama dengan mengutangkan mobil pada pembeli, lalu mengeruk keuntungan dari utang. 

Padahal para ulama berijma’ (bersepakat) akan haramnnya keuntungan bersyarat yang diambil dari utang piutang.

Semoga dengan mengetahui beberapa trik ini dapat semakin membuat kita waspada. Jangan tertipu dengan slogan syar’i semata. Kita perlu belajar dan terus mendalami berbagai hukum Islam sehingga bisa terhindar dari trik riba yang ada. Moga Allah berkahi kita dengan ilmu yang bermanfaat dan menghindarkan kita dari riba serta berbagai macam triknya.



@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 23 Shafar 1433 H

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :




Fatimah Az-Zahra, Perempuan Teladan Dunia

I REALLY LIKE THIS LINK


Hari ini, 20 Jumadits Tsani adalah hari kelahiran Sayyidah Fatimah Az-Zahra as. tepat di hari ini, pada tahun ke-5 kenabian, rumah pasangan Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah as diliputi oleh suasana yang penuh dengan kebahagiaan. Karena di hari itu, mereka dianugrahi karunia ilahi yang begitu berharga, kelahiran seorang perempuan agung, yang tiada lain adalah Sayyidah Fatimah Az-Zahra as.Kehadiran Fatimah laksana bunga yang mekar dengan begitu indahnya. Semerbak harumnya membuat jiwa-jiwa yang lunglai menjadi tercerahkan kembali. Kelahirannya mengakhiri seluruh pandangan dan keyakinan yang batil tentang perempuan. Saat Fatimah terlahir, Rasulullah pun menengadahkan kedua tangannya ke langit dan melantunkan doa syukur yang begitu indah. Dengan penuh suka cita, ia peluk si kecil Fatimah. Ia cium keningnya dan menatap wajahnya yang memancarkan cahaya kedamaian.

Sorotan mata Fatimah, membuat kalbu Rasulullah menjadi amat bahagia. Dengan lahirnya perempuan suci itu, Allah swt sepertinya membukakan khazanah harta karun alam semesta kepada sang Nabi saw. Sungguh benar apa yang dikatakan Al-Quran, bahwa Fatimah adalah Al-Kautsar. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar, nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Surat pendek ini merupakan pesan ilahi yang membuat hati Rasulullah menjadi begitu gembira dan ia benar-benar meyakini janji ilahi. Fatimah terlahir ke dunia untuk menjadi pemimpin kaum perempuan dan dari keturunannya akan lahir para manusia-manusia agung penegak agama ilahi dan keadilan.
Salam atasmu wahai Fatimah Az-Zahra as, perempuan yang paling utama, Salam atasmu wahai manusia yang paling dicintai Nabi, Salam atasmu wahai Fatimah, manusia sempurna.
Rasulullah saw bersabda, “Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia. Setiap kali ia beribadah di mihrab dihadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang-gemintang yang bersinar menerangi bumi”.
Keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki Sayyidah Fatimah as bukan hanya disebabkan ia adalah putri Rasulullah. Apa yang membuat pribadinya menjadi begitu luhur dan dihormati, lantaran akhlak dan kepribadiannya yang sangat mulia. Di samping itu, kesempurnaan dan keutamaan yang dimiliki Sayyidah Zahra as mengungkapkan sebuah hakikat bahwa masalah gender bukanlah faktor yang bisa menghambat seseorang untuk mencapai puncak kesempurnaan. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk meraih kesempurnaan.
Allah swt memberikan akal, kekuatan untuk memilih jalan hidup yang benar dan kemampuan untuk memahami hakikat alam semesta, kepada lelaki dan perempuan tanpa perbedaan. Kepribadian Sayyidah Fatimah yang begitu mulia, baik secara personal, maupun di lingkungan keluarga dan sosialnya menjadikan dirinya sebagai manifestasi nyata nilai-nilai Islam. Ia adalah contoh manusia teladan, seorang istri dan ibu yang penuh pengorbanan. Ia adalah contoh manusia sempurna yang seluruh wujudnya penuh dengan cinta, iman, dan makrifah.
Fatimah dilahirkan di tengah masyarakat yang tidak mengenal nilai-nilai luhur ilahi, penuh dengan kebodohan dan khurafat. Tradisi batil semacam membangga-banggakan diri, mengubur hidup-hidup anak perempuan, pertumpahan darah dan peperangan menjadi budaya yang telah berakar pinak dalam masyarakat Arab jahiliyah saat itu. Karena itu, Rasulullah saw pun akhirnya bangkit menyuarakan pesan-pesan suci Islam, menentang tradisi jahiliyah dan diskriminasi gender. Di tengah masyarakat terbelakang semacam itulah, kehadiran Fatimah, putri Rasulullah menjadi tolak ukur perempuan muslim.
Rasulullah saw, begitu menghormati Sayyidah Fatimah. Sebegitu mulianya akhlak Sayidah Fatimah itu, sampai-sampai Rasulullah saw senantiasa memuji dan menjadikannya sebagai putri yang paling ia sayangi dan cintai. Rasulullah saw bersabda: “Fatimah as adalah belahan jiwaku. Dia adalah malaikat berwajah manusia. Setiap kali aku merindukan aroma surga, aku pun mencium putriku, Fatimah”. Suatu ketika, Rasulullah saw kepada putrinya itu berkata, “Wahai Zahra, Allah swt telah memilihmu, menghiasimu dengan pengetahuan yang sempurna dan mengistimewakanmu dari kaum perempuan dunia lainnya”.
Dengan cara itu, Rasulullah sejatinya tengah memerangi pandangan jahiliyah yang melecehkan kaum perempuan. Beliau sangat menentang tindakan yang menghina kaum perempuan. Beliau tak segan-segan mencium tangan putrinya, padahal di masa itu, memiliki anak perempuan merupakan hal yang hina bagi seorang bapak.
Jiwa dan pribadi Fatimah mengenal konsepsi kehidupan yang paling luhur di rumah wahyu, di sisi pribadi agung Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah memperoleh wahyu, dengan penuh seksama Sayyidah Fatimah mendengarkan ajaran hikmah yang disampaikan oleh sang Ayah kepadanya. Sebegitu mendalamnya cinta kepada Allah dalam diri Fatimah, sampai-sampai tak ada apapun yang diinginkannya kecuali keridhoan Allah swt. Ketika Rasulullah saw berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apapun yang kamu pinta saat ini, katakanlah. Sebab Malaikat pembawa wahyu tengah berada di sisiku”. Namun Fatimah menjawab, “Kelezatan yang aku peroleh dari berkhidmat kepada Allah, membuat diriku tak menginginkan apapun kecuali agar aku selalu bisa memandang keindahan Allah swt”.
Masa kanak-kanak Fatimah berlangsung di masa-masa dakwah Islam yang paling sulit. Puncak kesulitan itu terjadi di masa tiga tahun pemboikotan keluarga Bani Hasyim di Syi’b Abu Thalib yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Tragisnya lagi di masa yang demikian sulit itu, Fatimah mesti kehilangan ibunda tercintanya, Sayyidah Khadijah as. Kepergian sang ibunda, membuat tanggung jawab Sayyidah Fatimah untuk merawat ayahandanya, Rasulullah saw kian bertambah. Di masa-masa yang penuh dengan cobaan dan tantangan itu, Sayyidah Fatimah menyaksikan secara langsung pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan ayahandanya demi tegaknya agama ilahi.
Begitu juga dengan masa-masa awal pernikahannya dengan Imam Ali as saat berada di Madinah. Di masa itu, Sayyidah Fatimah juga melewati masa-masa sulit peperangan dengan kaum musyrikin. Ia pun selalu menjadi tumpuan hati Imam Ali di masa-masa yang sangat kritis saat itu. Saat suaminya pergi ke medan laga, ia menangani seluruh urusan rumah tangganya, merawat dan mendidik putra-putrinya sebaik mungkin. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, ia senantiasa berusaha menjadi pendamping yang selalu tulus mendukung perjuangan Rasulullah, dan suaminya, Imam Ali as dalam menegakkan ajaran Islam.
Pasca wafatnya Rasulullah saw, umat Islam berada dalam situasi perselisihan yang amat krusial dan terancam pecah serta terjerumus dalam kesesatan. Namun dengan pemikiran yang jernih, Sayyidah Fatimah membaca kondisi umat Islam saat itu dengan penuh bijaksana, namun ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan titik lemah dan kelebihan umat Islam di masa itu. Dia sangat mengkhwatirkan masa depan umat dan memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap faktor-faktor yang bisa menyesatkan umat. Dalam khotbah bersejarahnya, pasca kepergian Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah as menegaskan bahwa jalan yang bisa menyelamatkan manusia adalah berpegang diri pada agama ilahi dan menaati perintah-perintahnya.
Semoga bermanfaat.
Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email  dibawah ini  :